Jakarta-Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memiliki pengalaman pribadi dengan mendiang Rosihan Anwar. SBY mengaku di suatu waktu pernah mendapat kritik langsung dari wartawan senior tersebut.
"Beliau tetap kritis, saya kenal beliau beberapa kali terhadap saya juga kritis, tapi kami bersahabat dan saya masih ingat ketika dalam beberapa dialog beliau hadir yang terakhir kali di istana negara, beliau menyampaikan pandangan-pandangan yang kritis tapi juga penuh tanggung jawab dan niat baik," kata SBY di rumah duka di Jalan Surabaya Nomor 13, Jakarta Pusat, Kamis (14/4/2011).
Menurut SBY, Indonesia telah kehilangan salah satu tokoh besar dan tokoh segala zaman sekelas Rosihan Anwar. "Kita kenal beliau bukan hanya sekedar wartawan tapi juga sastrawan, budayawan, dan juga tokoh film," tuturnya.
SBY menuturkan, banyak yang dilakukan oleh Rosihan untuk negeri ini. "Dia pelaku sejarah, baik zaman penjajahan era Presiden Sukarno, era Presiden Soeharto, sampai era reformasi," tutupnya.
Sebagaimana diketahui, Rosihan meninggal dunia sekira pukul 08.15 WIB di Rumah Sakit MMC Jakarta dalam usia 88 tahun. Rosihan meninggal akibat sakit sesak nafas yang dideritanya sejak lama. Rencananya, Rosihan akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Seperti yang dikutip Wikipedia, Rosihan telah hidup dalam multi-zaman. Di masa perjuangan, dia pernah disekap oleh penjajah Belanda di Bukit Duri, Jakarta Selatan. Kemudian di masa Presiden Soekarno koran miliknya, Pedoman pada 1961 ditutup oleh rezim saat itu.
Namun di masa peralihan pemerintah Orde Baru, Rosihan mendapat anugerah sebagai wartawan sejak sebelum Revolusi Indonesia dengan mendapatkan anugerah Bintang Mahaputra III, bersama tokoh pers Jakob Oetama. Sayangnya rezim Orde Baru ini pun menutup Pedoman pada tahun 1974-kurang dari setahun setelah Presiden Soeharto mengalungkan bintang itu di leher para penerimanya.(teb)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar